Tugas Softskill








Rabu, 27 Desember 2017
Sabtu, 28 Oktober 2017
Sistem Informasi Psikologi (Tugas ke-2)
Pengertian, Kelebihan, dan Kekurangan Sistem Informasi Psikologi
https://drive.google.com/file/d/0B3A9d1RkV6jdY1pGeHJ4dHNwY3M/view?usp=sharing
https://drive.google.com/file/d/0B3A9d1RkV6jdY1pGeHJ4dHNwY3M/view?usp=sharing
Selasa, 03 Oktober 2017
Sabtu, 01 Juli 2017
PSIKOTERAPI
Tugas Softskill 4
Kelas : 3PA17
Nama Anggota Kelompok :
Asrida Farahmawati
(1D514127)
Natasya Aristyani Zega (17514831)
Rekha Amallia Gusman (19514017)
Venta Oktavia Tilukay (1A514990)
Natasya Aristyani Zega (17514831)
Rekha Amallia Gusman (19514017)
Venta Oktavia Tilukay (1A514990)
REVIEW
FILM
Judul
: A Beautiful Mind
Rilis
:
Tahun 2001
Tokoh
: Russel Crowe sebagai John Nash
Film
A Beautiful Mind menggambarkan kisah perjuangan seorang ahli matematika genius asal
Amerika yang belajar di Universitas Princeton
yang bernama John Forbes Nash, yang berhasil menciptakan konsep ekonomi yang
kini dijadikan sebagai dasar dari teori ekonomi kontemporer. Selama Perang
Dingin berlangsung, Nash mengidap schizophrenia yang membuatnya hidup dalam
halusinasi dan selalu dibayangi ketakutan hingga ia harus berjuang keras untuk
sembuh dan meraih hadiah Nobel tahun 1994, kala ia memasuki usia senja.
Kisah
dibuka dengan Nash muda di tahun 1948 yang memulai hari-hari pertama kuliahnya
di universitas bergengsi, Princeton University. Sejak awal, Nash -lelaki
sederhana dari dusun Virginia digambarkan sebagai pribadi penyendiri, pemalu,
rendah diri, introvert sekaligus aneh. Aku tak terlalu suka berhubungan dengan
orang dan rasanya tak ada orang yang menyukaiku, ujar Nash berkali-kali. Di
balik segala kekurangannya, Nash juga digambarkan sebagai laki-laki arogan yang
bangga akan kepandaiannya. Ini ditunjukkannnya dengan cara menolak mengikuti kuliah
yang dianggapnya hanya menghabiskan waktu dan membuat otak tumpul. Sebagai
gantinya, Nash lebih banyak meluangkan waktu di luar kelas demi mendapatkan ide
orisinal untuk meraih gelar doktornya dan diterima di pusat penelitian
bergengsi, Wheeler Defense Lab di MIT.
Di
tengah persaingan ketat, Nash mendapat teman sekamar yang sangat memakluminya,
Charles Herman yang memiliki keponakan seorang gadis cilik Marcee. Nash yang
amat terobsesi dengan matematika-sampai-sampai menulis berbagai rumus di kaca
jendela kamar dan perpustakaanakhirnya secara tak sengaja berhasil menemukan
konsep baru yang bertentangan dengan teori bapak ekonomi modern dunia, Adam
Smith. Konsep inilah yang dinamakannya dengan teori keseimbangan, yang
mengantarkannya meraih gelar doktor. Mimpi Nash menjadi kenyataan. Tak hanya
meraih gelar doktor, ia berhasil diterima sebagai peneliti dan pengajar di MIT.
Hidup
Nash mulai berubah ketika ia diminta Pentagon memecahkan kode rahasia yang
dikirim tentara Sovyet. Di sana, ia bertemu agen rahasia William Parcher. Dari
agen rahasia ini, ia diberi pekerjaan sebagai mata-mata. Pekerjaan barunya ini
membuat Nash terobsesi sampai ia lupa waktu dan hidup di dunianya sendiri.
Adalah
Alicia Larde, seorang mahasiswinya yang cantik, yang membuatnya sadar bahwa ia
juga membutuhkan cinta. Ketika pasangan ini menikah, Nash justru semakin parah
dan merasa terus berada dalam ancaman bahaya gara-gara pekerjaannya sebagai
agen rahasia. Nash semakin hari semakin terlihat aneh dan ketakutan, sampai
akhirnya ketika ia sedang membawakan makalahnya di sebuah seminar di Harvard,
Dr Rosen seorang ahli jiwa menangkap dan membawanya ke rumah sakit jiwa. Dari
situlah terungkap, Nash mengidap paranoid schizophrenia. Beberapa kejadian yang
dialami Nash selama ini hanya khayalan belaka. Tak pernah ada teman sekamar,
Herman dan keponakannya yang menggemaskan, Marcee ataupun Parcher dengan proyek
rahasianya.
Untungnya,
Alicia adalah seorang istri setia yang tak pernah lelah memberi semangat pada
suaminya. Dengan dorongan semangat serta cinta kasih yang tak pernah habis dari
Alicia, Nash bangkit dan berjuang melawan penyakitnya.
ü
Kajian Film “A Beautiful Mind” dalam
Psikologi.
Dilihat dari situasi yang terdapat pada film “A
Beautiful Mind”, terdapat beberapa permasalahan yang berkaitan dengan Psikologi.
Beberapa permasalahan tersebut adalah :
1.
Ciri-ciri
gangguan schizophrenia
2.
Jenis-jenis
gangguan schizophrenia
3.
Penyebab
terjadinya gangguan schizophrenia
4.
Terapi
atau pengobatan untuk penderita schizophrenia
ü Berikut
adalah pembahasan mengenai permasalahan di atas :
Skizofrenia
pertama kali diberi nama sebagai dementia
praecox pada tahun 1899 oleh Emil Kraeplin dikarenakan fokus utama dalam
penyakit ini adalah kemunduran tingkat intelektual seseorang. Namun diganti
menjadi skizofrenia oleh Eugen Bleuer pada tahun 1989 karena penyakit ini menunjukan
terpecahnya antara pikiran, emosi dan perilaku penderita. Menurut Jim Van Os
(2009) pada Jurnal of Medical Science mengatakan bahwa :
“Schizophrenia
does not just affect mental health; patients with a diagnosis of schizophrenia
die 12-15 years before the average population, with this mortality difference
increasing in recent decades. Thus, schizophrenia causes more loss of lives
than do most cancers and physical illnesses.”
ü Ciri-ciri
gangguan skizofrenia
Menurut Gerald C Davison (2014) dalam
Psikologi Abnormal edisi ke sembilan, schizophrenia memiliki ciri-ciri yang
digolongkan menjadi beberapa kategori
yaitu simptom positif, simptom negatif, disorganisasi dan simptom lain.
Pada film tersebut, Nash memperlihatkan
beberapa ciri-ciri penderita skizofrenia seperti :
1.
Simptom Positif
Simptom ini mencakup
hal-hal yang berebihan dan distorsi, seperti halusinasi dan delusi. Pada Nash,
delusi dan halusinasi terdapat pada dirinya yang awalnya tidak disadarinya.
Halusinasi yang muncul adalah Charles Herman sebagai teman sekamarnya, Marcee
sebagai keponakan dari Charles Herman dan William Parcher sebagai kepala divisi
mata-mata di Pentagon. Delusi Nash juga muncul akibat dari William Parcher,
delusi yang muncul adalah Nash mengira dirinya adalah seorang mata-mata.
2.
Simptom Negatif
Menurut
Sebastian Walter (2012) dalam Jurnal of Neuropsychobiology mengatakan simptom negatif schizophrenia mencakup berbagai
defisit behavioral, seperti avolition,
alogia, anhedonia, afek datar, dan asosialitas.
·
Avolition
Apati atau avolition
merupakan kondisi kurangnya energi dan ketiadaan minat atau ketidakmampuan
untuk tekun melakukan apa yang biasanya merupakan aktifitas rutin seperti
berdandan, mandi, menyisir rambut, dll. Pada kasus ini, Nash tidak
memperlihatkan adanya avolition pada dirinya.
·
Alogia
Alogia dapat terwujud
dalam beberapa bentuk seperti, miskin percakapan, jumlah total pecakapan sangat
jauh berkurang. Pada kasus ini, Nash memperlihatkan adanya alogia pada dirinya
seperti pada bagian ketika Nash ingin merayu wanita akan tetapi dia tidak
melakukan hal yang seharusnya dilakukan.
·
Anhedonia
Anhedonia adalah
ketidakmampuan untuk merasakan kesenangan. Ini tercermin dalam kurangnya minat
dalam berbagai aktifitas rekreasional, gagal untuk mengembangkan hubungan dekat
dengan orang lain, dan kurangnya minat dalam hubungan seks. Pada kasus ini,
Nash memperlihatkan beberapa kurangnya minat dalam berbagai aktifitas seperti
masuk dalam kelas sewaktu ia kuliah di Princeton, gagal untuk mengembangkan
hubungan dekat dengan orang lain sewaktu Nash pertama kali masuk di Princeton
dan gagal menjalin hubungan dengan teman-temannya yang lain.
·
Afek
datar
Ketidakadanya repson
emosional akibat stimulus yang ada seperti mata kosong, otot wajah kendur dan
mata mereka tidak hidup. Pada kasus ini, beberapa kali Nash memperlihatkan afek
datar.
·
Asosialitas
Ketidakmampuan parah
dalam hubungan sosial. Ini ditunjukan oleh Nash pada keseluruhan filmnya, Nash
hanya dapat bergaul pada sedikit orang saja.
3.
Disorganisasi
Simptom-simptom
disorganisasi mencakup disorhanisasi pembiacaran dan perilaku aneh (bizzare).
·
Disorganisasi
pembicaraan
Dikenal sebagai
gangguan berpikir formal, disorganisasi pembicaraan merujuk pada masalah dalam
merngorganisasi berbagai pemikiran dan dalam berbicara sehingga pendengar dapat
memahaminya. Pada kasus ini, Nash memperlihatkan disorganisasi pembicaraan pada
saat dia sedang ditantang untuk bermain catur igo.
·
Perilaku
Aneh (bizzare)
Perilaku aneh terwujud
dalam banyak bentuk seperti penderita dalam meledak dalam kemarahan atau
konfrontasi singkat yang tidak dapat dimengerti, memakai pakaian yang tidak
biasa, bertingkah laku seperti anak-anak atau dengan gaya yang konyol,
menyimpan makanan, mengumpulkan sampah, atau perilaku seksual yang tidak pantas
seperti melakukan masturbasi di depan umum. Mereka tampak kehilangan kemampuan
untuk mengatur perilaku mereka dan menyesuaikannya dengan berbagai standar
masyarakat. Meeka juga mengalami kesulitan melakukan tugas-tugas sehari-hari
dalam hidup. Pada kasus ini, Nash memperlihatkan adanya perliaku aneh ketika
dia sedang minum bersama teman sekamarnya Charles dan Nash sempat meledak dalam
kemarahan dan juga ketika ia frustasi pada ide yang tidak muncul.
4.
Simptom Lain
Dalam Psikologi
Abnormal Edisi ke Sembilan, dijelaskan bahwa ada beberapa simptom lain
schizophrenia yang tidak termasuk dalam ketiga kategori diatas akan tetapi
ditunjukan oleh penderita schizophrenia adalah katatonik dan afek yang tidak
sesuai.
·
Katatonik
Beberapa abnormalitas
motorik menjadi ciri katatonia seperti adanya gerakan yang berulang,
menggunakan urutan yang aneh dan kadang kompleks antara gerakan jari, tangan
dan lengan yang sering kali tampaknya memiliki tujuan tertentu dan gerakan yang
membeku pada seluruh tubuh penderita dalam jangka waktu yang sangat lama. Nash
memperlihatkan adanya gerakan katatonik berulang dan gerakan kompleks antara
jari, tangan dan lengan ketika ia sedang mencoba menjelaskan sesuatu.
·
Afek
yang tidak sesuai
Beberapa penderita
schizophrenia memiliki afek yang tidak sesuai. Respon yang ditunjukan oleh
penderita terkadang tidak sesuai dengan stimulus yang diberikan seperti ketika
mendapat berita duka, penderita bisa tertawa atau ketika mendengar lelucon,
penderita bisa menangis atau marah tanpa alasan yang jelas. Pada simptom ini,
Nash tidak menunjukan adanya afek yang tidak sesuai pada dirinya.
Terapi
atau pengobatan pada skizofrenia
Beberapa metode terapi
yang digunakan untuk para penderita schizophrenia masih banyak diteliti untuk
tingkat efektifitasnya. Walaupun hingga saat ini, metode yang digunakan masih
diteliti akan tetapi metode saat ini sudah jauh lebih baik ketimbang metode-metode
awal yang digunakan oleh para psikiater. Menurut Howard Lewine (2009) dalam
Jurnal of Medical Science mengatakan
“Recent evidence suggests that combination
therapy is best. This would include medicine, individual and group therapy, and
community services.”
Metode-metode tersebut menggunakan
beberapa pendekatan antara lain pendekatan biologis dan pendekatan psikologis.
1. Pendekatan
Biologis
·
Terapi
Kejut dan Psychosurgery
Pada awal tahun 1930,
Sekel mempublikasikan praktek koma insulin yang mengklaim bahwa ¾ pasiennya
dinyatakan mengalami perbaikan signifikan, akan tetapi temuan ini tidak
didukung oleh peneliti lain yang akhirnya ditinggalkan. Pada tahun 1938,
Cerletti dan Bini menciptakan Electricshock
Theraoy (ECT) yang juga terbukti memiliki efektivitas minimal. Pada tahun
1935, Moniz, seorang psikiater berkebangsaan Portugis memperkenalkan lobotomi prefrontalis, suatu prosedur
pembedahan pada bagian otak yang membuang bagian-bagian yang menghubungkan
lobus frontalis dengan pusat otak bagian bawah. Pada awal laporan mengklaim
bahwa terapi ini memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi. Para penderita yang
tidak hanya didiagnosis menderita schizophrenia juga dilakukan terapi ini
seperti pasien yang memiliki perilaku agresif yang tinggi. Namun efek dari terapi
ini adalah banyak pasien yang menjadi tumpul, tidak bertenaga dan sangat
kehilangan berbagai kemampuan kognitif mereka yang tidak mengherankan melihat
adanya pembuangan bagian otak mereka yang diyakini memiliki tanggung jawab
terhadap pikiran dan oleh karena salah satu sebab ini akhirnya praktek terapi
ini ditinggalkan.
·
Terapi
Obat
Perkembangan terpenting
dalam terapi untuk schizophrenia adalah penemuan obat-obatan pada tahun 1950-an
yang secara kolektif disebut sebagai obat-obatan
antipsikotik, yang juga dikenal sebagai neuroleptik
karena menimbulkan efek samping yang sama dengan simptom penyakit neurologis.
Salah satu obat antpsikotik yang paling sering diresepkan adalah fenothiazin yang pertama kali dikenalkan
oleh ahli kimia berkebangsaan Jerman di akhir abad ke 19. Seiring
perkembangannya, obat ini berganti-ganti
dengan efek yang sama. Efek samping yang diakibatkan oleh obat
tradisional umumnya adlaah pusing, penglihatan kabur, tidak bisa tenang dan
disfungsi seksual. Selain itu masih banyak terdapat efek samping yang
mengganggu yang disebut efek samping
ekstrapiramidal. Efek samping ini mirip dengan simptom yang ditunjukan oleh
para penderita parkinson yaitu tremor pada jari, langkah yang terseret dan
berliur. Pada beberapa kasus yang parah, seluruh motorik penderita tidak dapat
dikendalikan dan terjadi sekitar 10 – 20% penderita yang ditangani dengan
antipsikotik dalam waktu lama.
·
Terapi
Obat terbaru
Terapi obat modern ini
mulai berkembang ketika diperkenalkannya klozapin
bagi penderita yang tidak merepsons dengan baik obat-obat antipsikotik
tradisional dan mengurangi simptom positif yang lebih baik dibanging obat
antipsikotik tradisional. Meski belum diketahui secara pasti efek dari
klozapin, namun kita mengetahui bahwa klozapin berdampak besar terhadap
reseptor serotonin. Namun obat ini menimbulkan efek yang serius yaitu penurunan
sistem imun pada sejumlah kecil pasien dengan menurunkan sel darah putih
sehingga pasien rentan terhadap infeksi dan bahkan kematian.
2. Pendekatan
Psikologis
Para profesional,
pasien dan keluarga mulai menyadari bahwa salah satu ciri utama dalam
schizophrenia adalah disabilitas kognitif dan karena alasan ini, pendekatan
psikologis mulai mendapat perhatian yang serius untuk menangani pasien
schizophrenia.
·
Terapi
Psikodinamika
Terapi ini pertama kali
dipelopori oleh Harry Stack Sullivan di rumah sakit Sheppard dan Enoch Pratt di
Towson yang dilaporkan sangat berhasil. Meskipun sangat banyak klaim
keberhasilan yang disampaikan atas berbagai analisis yang dilakukan oleh
Sullivan dan Fromm-Reichmann, pengamatan teliti terhadap pasien yang mereka
tangani menunjukan banyak diantara mereka yang hanya mengalami gangguan ringan
dan mungkin bahkan tidak didiaagnosis skizofrenik berdasarkan kiteria DSM-IV-TR
yang sangat ketat bagi gangguan ini. Oleh karena itu pada tahun 1963 dan 1976
di New York Psychiatric Institute menunjukan bahwa pendekatan analitis sangat
tidak berhasil bagi para pasien schizophrenia
·
Pelatihan
Ketrampilan Sosial
Pelatihan ini
menekankan dirancang agar para penderita schizophrenia dapat berhasil dalam
berbagai situasi interpersonalyang sangat beragam seperti memesan makanan di
restoran, membaca jadwal perjalanan bis yang sebagian besar diantara kita
dilakukan begitu saja dan hampir tidak pernah kita pikrkan dalam kehidupan
sehari-hari. Metode ini menggunakan kombinasi dari permainan peran, modeling
dan penguatan positif yang menghasilkan perbaikan yang signifikan pada pasien.
·
Terapi
Keluarga dan Mengurangi Ekspresi Emosi
Terapi ini muncul
akibat adanya persoalan setelah pasien kembali ke keluarga dan berhubungan
dengan kekambuhan yang mengakibatkan pasien dirawat kembali di rumah sakit. Beberapa
panduan mengenai terapi ini adalah sebagai berikut :
Ø
Edukasi
tentang schizophrenia, terutama biologis yang mempredisposisi seseorang
terhadap penyakit tersebut, berbagai masalah kognitif yang melekat dengan
schizophrenia simtom-simtomnya, dan tanda-tanda akan terjadinya kekambuhan.
Ø
Informasi
tentang dan pemantauan berbagai efek pengobatan antipsikotik
Ø
Menghindari
saling menyalahkan-terutama, mendorong keluarga untuk tidak menyalahakan diri
sendiri maupun pasien atas penyakit tersebut dan atas semua kesulitan yang
dialami seluruh keluarga dalam menghadapi penyakit tersebut
Ø
Memperbaiki
komunikasi dan ketrampilan penyelesaian masalah dalam keluarga
Ø
Mendorong
pasien dan keluarganya untuk memperluas kontak sosial mereka
Ø
Menanamkan
sebentuk harapan bahwa segala sesuatu dapat berjalan lebih baik
·
Terapi
Kognitif-Behavioral
Sebelumnya diasumsikan
bahwa tidak ada gunanya mencoba mengubah berbagai distorsi kognitif, termasuk
delusi pada penderita schizophrenia. Meskipun demikian, suatu literatur klinis
dan eksperimental yang sedang berkembang dewasa ini menunjukan bahwa bergai
keryakinan maladaptif pada beberapa pasien kenyataanya dapat diubah dengan
berbagai intervensi kognitif-behavioral.
·
Terapi
Personal
Terapi ini merupakan
suatu pendekatan kognitif-behavioral berspektrum luas terhadap multiplisitas
masalah yang dialami para pasien schizophrenia yang telah keluar dari rumah
sakit. Terapi ini memfokuskan kepada pasien dalam penuruan EE (ekspresi emosi)
yang dialaminya. Tujuan dari terapi ini adalah mengajarkan keterampilan coping
internal pada pasien, berbagai cara baru dalam berpikir tentang dan
mengendalikan berbagai reaksi afektif terhadap tantangan apapun yang terdapat
di lingkungannya.
·
Terapi
Retribusi
Istilah yang digunakan
terapi ini adalah “manajemen kritisisme dan penyelesaian konflik”. Istilah
tersebut merujuk pada cara menghadapi umpan balik negatif dari orang lain dan
cara menyelesaikan berbagai konflik interpersonal yang merupakan bagian tak
terhindarkan dalam berhubungan dengan orang lain. Mengajari pasien keterampilan
penyelesaian masalah sosial merupakan bagian dari elemen terapi ini.
Ketika Nash didiagnosa
oleh psikiater bahwa ia mengidap skizofrenia, Nash dirawat di Rumah Sakit Jiwa
dengan penanganan khusus. Penanganan pertama pada Nash adalah ECT (Electricshock Terapy). Setelah menjalani
ECT, Nash dirawat dirumah dengan syarat harus menjalani pengobatan dengan cara
farmatokologi. Obat yang diberikan Nash pada saat itu adalah antipsikotik yang
hanya menghambat kinerja dophamin agar tidak lagi mengalami delusi dan
halusinasi. Efek samping dari pengobatan ini adalah menurunnya tingkat
konsentrasi, gairah seksual dan menghambat proses berfikir.
Karena terapi dengan
obat ini mengakibatkan retaknya hubungan keluarga Nash, maka Nash memutuskan
untuk berhenti meminum obatnya dan mengakibatkan gangguan skizofrenia kembali
lagi. Setelah mengalami konflik yang cukup hebat. Alicia juga memerankan peran seorang istri yang sangat setia dan selalu mendukung Nash, akhirnya istri Nash setuju
bahwa terapi sosial harus dijalaninya. Nash menerima rasa empati, rasa
penerimaan yang mengakibatkan dirinya dapat kembali lagi ke lingkungan
sosialnya hingga akhirnya ia berhasil meraih penghargaan nobel pada usia
senjanya.
Minggu, 28 Mei 2017
Tugas Softskill 3 (PSIKOTERAPI).
LOGOTERAPI
( FRANKL)
Kelas : 3PA17
Nama Anggota
Kelompok :
Asrida Farahmawati
(1D514127)
Natasya Aristyani Zega (17514831)
Rekha Amallia Gusman (19514017)
Venta Oktavia Tilukay (1A514990)
Natasya Aristyani Zega (17514831)
Rekha Amallia Gusman (19514017)
Venta Oktavia Tilukay (1A514990)
1. Pengertian dan
Sejarah Logoterapi (Frankl)
Prof. Viktor E. Frankl adalah seorang profesor dari
Fakultas Kedokteran-Universitas Vienna dan juga cukup lama menjadi mahasiswa
yang mempelajari filosofi eksistensial.Pada awal 1938 menggunakan istilah
‘Existenz-Analyse’ dalam tulisannya.Beliau memperoleh gelar doktor filosofi,
dan juga gelar dokter sebagai neurologis dan psikiater. Kemudian Frankl bekerja
sebagai Kepala Poliklinik Neurologik Vienna dan mendapat julukan kehormatan
“The Third Viennese School of Psychotherapy”.
Frankl memperkenalkan logoterapi yang mengakui
adanya dimensi spiritual dan memanfaatkannya untuk mengembangkan hidup bermakna
(therapy through meaning). Dari asal katanya, logoterapi berasal dari kata
‘logos’ yang berarti ‘meaning’ (makna) dan ‘spirituality’ (kerohanian).
Logoterapi digolongkan pada Existential Psychiatry dan Humanistic Psychology
Viktor
Frankl berpendapat bahwa kebutuhan manusia yang lebih mendasar adalah kebutuhan
untuk hidup bermakna atau berarti.Keinginan untuk mempunyai maknai merupakan
salah satu kekuatan motivasi yang ada dalam diri manusia bahkan lebih mendasar
daripada ‘prinsip kesenangan’ (pleasure principle) dari Freud atau ‘keinginan
untuk berkuasa’ dari Adler. Menurut Frankl, seseorang akan menjadi sakit
apabila dia tidak lagi mempertanyakan keberadaannya. Hal ini terjadi karena dia
tidak dapat lagi berfungsi sebagaimana mestinya atau istilah Frankl manusia itu
sedang berada di dalam ‘kekosongan eksistensial’
Logoterapi dikemukakan oleh Viktor Emile
Frankl. Frankl lahir pada tanggal 26 Maret 1905 di Wina dari pasangan Gabriel
Frankl dan Elsa Frankl. Frankl yang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara
dibesarkan dalam keluarga yang religius dan berpendidikan. Ibunya seorang
Yahudi yang taat, dan Ayahnya merupakan pejabat Departemen Sosial yang banyak
menaruh perhatian pada kesejahteraan sosial. Frankl menaruh minat yang besar
terhadap persoalan spiritual, khususnya berkenaan dengan makna hidup (Koeswara,
1992).Terapi yang mengusahakan agar kehidupan senantiasa berguna bagi diri
sendiri, keluarga, masyarakat dan agama.
Logoterapi berpandangan bahwa ‘makna
hidup’ (the meaning of life) dan ‘hasrat untuk hidup bermakna’ (the will to
meaning) merupakan motif azasi manusia yang dapat dilihat dalam dimensi
spiritual atau ‘noetic’. Jadi, Frankl berpendapat bahwa ada dimensi lain selain
dimensi somatik dan psikis, yaitu dimensi spiritual. Tampaknya Frankl tidak
memisahkan antara fisik, psikis dan spiritual seorang manusia dan menganggapnya
merupakan satu kesatuan yang utuh.Konflik dasar spiritual yang muncul dari
dalam diri seseorang dapat terjadi sebagai akibat ketidakmampuannya untuk
muncul secara spiritual mengatasi kondisi fisik dan psikisnya.
Konflik ini tidak berakar pada kerumitan
psikologis, akan tetapi terpusat pada hal spiritual dan etis. Apabila terdapat
satu konflik spiritual dapat menyebabkan gangguan psikologis (neurosis) yang
disebut Frankl sebagai ‘noogenic neurosis’. Terapi ini bertujuan untuk memenuhi
doroangan spiritual yang dibawa oleh manusia sejak lahir dengan mengeksplorasi
makna keberadaan manusia. Menurut Frankl (2004) logoterapi memiliki wawasan mengenai
manusia yang berlandaskan tiga pilar filosofis yang satu dengan lainya erat
hubunganya dan saling menunjang yaitu:
a. Kebebasan Berkehendak (
Freedom of Will )
Dalam pandangan Logoterapi manusia adalah
mahluk yang istimewa karena mempunyai kebebasan. Kebebasan disini bukanlah
kebebasan yang mutlak, tetapi kebebasan yang bertanggungjawab. Kebebasan
manusia bukanlah kebebasan dari (freedom from) kondisi-kondisi biologis,
psikologis dan sosiokultural tetapi lebih kepada kebebasan untuk mengambil
sikap ( freedom to take a stand ) atas kondisi-kondisi tersebut. Kelebihan
manusia yang lain adalah kemampuan untuk mengambil jarak ( to detach ) terhadap
kondisi di luar dirinya, bahkan manusia juga mempunyai kemampuan-kemampuan
mengambil jarak terhadap dirinya sendiri ( self detachment ).
Kemampuan-kemampuan inilah yang kemudian membuat manusia disebut sebagai “ the
self deteming being” yang berarti manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan
sendiri apa yang dianggap penting dalam hidupnya.
b. Kehendak Hidup Bermakna ( The
Will to Meaning )
Menurut Frankl, motivasi hidup manusia yang
utama adalah mencari makna. Ini berbeda denga psikoanalisa yang memandang
manusia adalah pencari kesenangan atau juga pandangan psikologi individual
bahwa manusia adalah pencari kekuasaan. Menurut logoterapi ( Koeswara, 1992 )
bahwa kesenagan adalah efek dari pemenuhan makna, sedangkan kekuasaan merupakan
prasyarat bagi pemenuhan makna itu. Mengenal makna itu sendiri menurut Frankl
bersifat menarik ( to pull ) dan menawari ( to offer ) bukannya mendorong
( to push ). Karena sifatnya menarik itu maka individu termotivasi untuk
memenuhinya agar ia menjadi individu yang bermakna dengan berbagai
kegiatan yang sarat dengan makna.
c. Makna Hidup ( The Meaning Of
Life )
Makna hidup adalah sesuatu yang dianggap
penting, benar dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi
seseorang ( Bastaman, 1996 ). Untuk tujuan praktis makna hidup dianggap identik
dengan tujuan hidup. Makna hidup bisa berbeda antara manusia satu
dengan yang lainya dan berbeda setiap hari, bahkan setiap jam. Karena itu, yang
penting bukan makna hidup secara umum, melainkan makna khusus dari hidup
seseorang pada suatu saat tertentu. Setiap manusia memiliki pekerjaan dan misi
untuk menyelesaikan tugas khusus. Dalam kaitan dengan tugas tersebut dia tidak
bisa digantikan dan hidupnya tidak bisa diulang. Karena itu, manusia memiliki
tugas yang unik dan kesempatan unik untuk menyelesaikan tugasnya ( Frankl,
2004)
2. Tujuan Logoterapi
Agar dalam masalah yang dihadapi klien dia
bisa menemukan makna dari penderitaan dan kehidupan serta cinta. Dengan
penemuan itu klien akan dapat membantu dirinya sehingga bebas dari masalah
tersebut.
3. Fungsi dan Peran Terapis
1.Menjaga hubungan yang akrab dan pemisahan
ilmiah
2.Mengendalikan filsafat pribadi
3.Terapis bukan guru atau pengkhotbah
4.Memberi makna lagi pada hidup
5.Memberi makna lagi pada penderitaan
6.Menekankan makna kerja
7.Menekankan makna cinta
4. Hubungan Klien dengan Terapis
Dalam logoterapi, konseli mampu mengalami
secara subjektif persepsi persepsi tentang dunianya. Dia harus aktif dalam
proses terapeutik, sebab dia harus memutuskan ketakutan-ketakutan,
perasaan-perasaan berdosa dan kecemasan-kecemasan apa yang akan dieksplorasi.
Memutuskan untuk menjalani terapi saja sering merupakan tindakan yang
menakutkan. Konseli dalam terapi ini, terlibat dalam pembukaan pintu diri
sendiri. Pengalaman sering menakutkan atau menyenangkan dan mendepresikan atau
gabungan dari semua perasaan tersebut.
Dengan membuka pintu yang tertutup, konseli
mampu melonggarkan belenggu deterministic yang telah menyebabkan dia terpenjara
secara psikologis. Lambat laun konseli mulai sadar, apa dia tadinya dan siapa
dia sekarang serta klien lebih mampu menetapkan masa depan macam apa yang
diinginkannya. Melalui proses terapi, konseli bisa mengeksplorasi
alternative-alternatif guna membuat pandangan-pandangan menjadi nyata.
Menurut Frankl (1959), pencarian makna dalam
hidup adalah salah satu ciri manusia. Dalam pandangan para eksistensialis,
tugas utama konselor adalah mengeksplorasi persoalan-persoalan yang berkaitan
dengan ketidakberdayaan, keputusasaan, ketidakbermaknaan, dan kekosongan
eksistensial. Tugas proses terapeutik adalah menghadapi masalah
ketidakbermaknaan dan membantu Konseli dalam membuat makna dari dunia yang
kacau. Frankl menandaskan bahwa fungsi Konselor bukanlah menyampaikan kepada
Konseli apa makna hidup yang harus diciptakannya, melainkan mengungkapkan bahwa
Konseli bisa menemukan makna, bahkan juga dari penderitaan, karena penderitaan
manusia bisa diubah menjadi prestasi melalui sikap yang diambilnya dalam
menghadapi penderitaan itu.
Buhler dan Allen (1972) sepakat bahwa
psikoterapi difokuskan pada pendekatan terhadap hubungan manusia alih-alih
sistem teknik. Para ahli psikologi humanistik memiliki orientasi bersama yang
mencakup hal-hal berikut :
1. Mengakui pentingya pendekatan dari pribadi
ke konselor
2. Menyadari peran dari tanggung jawab
Konselor
3. Mengakui sifat timbal balik dari hubungan
terapeutik
4. Berorientasi pada pertumbuhan
5. Menekankan keharusan Konselor terlibat
dengan Konseli sebagai suatu
pribadi yang menyeluruh
6. Mengakui bahwa putusan-putusan dan
pilihan-pilihan akhir terletak di tangan
Konseli
7. Memandang Konselor sebagai model, dalam
arti bahwa Konselor dengan gaya
hidup dan pandangan humanistiknya tentang
manusia bisa secara implisit
menunjukkan potensi Konseli bagi tindakan
kreatif dan positif
8. mengakui kebebasan Konseli untuk
mengungkapkan pandangan dan untuk
mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya
sendiri
9. bekerja ke arah mengurangi ketergantungan
Konseli serta meningkatkan kebebasan Konseli.
5. Teknik Logoterapi
Victor Frankl dikenal sebagai terapis yang
memiliki pendekatan klinis yang detail. Diantara teknik-teknik tersebut adalah
yang dikenal dengan intensi paradoksal, yang mampu menyelesaikan lingkaran
neurotis yang disebabkan kecemasan anti sipatori dan hiper-intensi. Intensi
paradoksal adalah keinginan terhadap sesuatu yang ditakuti.
Seorang pemuda yang selalu gugup ketika
bergaul dengan banyak disuruh Frankl untuk menginginkan kegugupan itu. Contoh
lain adalah masalah tidur. Menurut Frankl, kalau anda menderita insomnia, anda
seharusnya tidak mencoba berbaring ditempat tidur, memejamkan mata,
mengosongkan pikiran dan sebagainya. Anda justru harus berusaha terjaga selama
mungkin. Setelah itu baru anda akan merasakan adanya kekuatan yang mendorong
anda untuk melangkah ke kasur.
Teknik terapi Frankl yang kedua adalah
de-refleksi. Frankl percaya bahwa sebagian besar persoalan kejiwaan berawal
dari perhatian yang terlalu terfokus pada diri sendiri. Dengan mengalihkan
perhatian dari diri sendiri dan mengarahkannya pada orang lain,
persoalan-persoalan itu akan hilang dengan sendirinya. Misalnya, kalau
mengalami masalah seksual, cobalah memuaskan pasangan anda tanpa memperdulikan
kepuasan diri anda sendiri. Atau cobalah untuk tidak memuaskan siapa saja,
tidak diri anda, tidak juga diri pasangan anda.
6. Kelebihan Logoterapi
Logoterapi mengajarkan bahwa setiap
kehidupan individu mempunyai maksud, tujuan, makna yang harus diupayakan untuk
ditemukan dan dipenuhi. Hidup kita tidak lagi kosong jika kita menemukan suatu
sebab dan sesuatu yang dapat mendedikasikan eksistensi kita
7. Kekurangan Logoterapi
Ada beberapa klien yang tidak dapat menunjukan
makna hidupnya sehingga timbul suatu kebosanan merupakan ketidakmampuan
seseorang untuk membangkitkan minat apatis, perasaan tanpa makna, hampa,
gersang, merasa kehilangan tujuan hidup, meragukan kehidupan. Sehingga
enyulitkan konselor untuk melakukan terapi kepada klien tersebut.
Daftar pustaka:
Gerald Corey. (2007). Teori dan Praktek
Konseling. Bandung: PT Refika Aditama.
Bastaman, H.D. 2007. Logoterapi “Psikologi
untuk Menemukan Makna Hidup dan Meraih Hidup Bermakna”. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.
Frankl. Emil. 2004. On the theory and therapy
of mental disorders: an introduction to logotherapy and existential analysis.
Brunner-Routledge 270 Madison Avenue. New York.
http://mayzellaindah.blogspot.com/2013/05/logoterapi-frankl.html
Langganan:
Postingan (Atom)